Sabtu, 21 Oktober 2017
Oleh Ustadz Dr. Azhari Akmal Tarigan, MA

GAMBARAN SEORANG MUSLIM YANG IDEAL

Di dalam al-Qur’an ada tiga surah yang menggambarkan karakter seorang muslim, yaitu surah Muhammad, Al-Fath dan al-Hujurat. Surah Muhammad bercerita tentang bahwa seorang muslim tidak hanya cukup melaksanakan ritual tetapi juga harus memiliki visi ke depan berkotribusi memajukan peradaban Islam. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.”

Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa seorang yang taat kepada Allah dan rasul-Nya masih berkemungkinan untuk membatalkan amal ibadahnya. Secara logika bagaimana mungkin orang yang sudah mentaati Allah dan rasul membatalkan amal ibadah? Ini menunjukkan bahwa ibadah mahdhah yang dilakukan tidak cukup.

Pengikut nabi Muhammad ada 3 macam.

  1. Orang yang bersalawat kepada Nabi. Orang seperti ini hafal betul berbagai macam salawat kepada nabi. Tapi hanya sebatas itu saja.
  2. Cinta pada Rasulullah pada persoalan ibadah. Ia sangat peduli tentang ibadah yang ada hadisnya. Tidak ada hadis, ia tidak mau mengamalkan. Orang yang kaku memahami hadis cendrung menyalahkan orang. Padahal kita tidak pernah tahu secara pasti berapa jumlah hadis di seluruh dunia. Berbeda dengan al-Qur’an yang jumlahnya jelas dan jamak diketahui oleh ulama.
  3. Orang yang melanjutkan perjuangan Rasulullah dalam hidupnya. Ia memperjuangkan bagaimana transformasi umat menjadi hebat.

Kita perlu membayangkan bagaimana posisi kita di hari kiamat nanti. Dimana posisi dan kedudukan kita di dekat nabi. Belum tentu orang yang rajin shalat, puasa dan haji itu dekat dengan nabi. Tapi ada ciri-ciri orang yang dekat dengan Nabi di hari kiamat nanti. Misalnya, “Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini.” (HR. Bukhari).

Pada ayat terakhir surah Muhammad Allah mengingatkan kita tentang pentingnya untuk memperjuangkan Islam. Jika tidak, maka Allah akan mengganti kita dengan umat lain. “Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir Sesungguhnya Dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.” (QS. Muhammad, 47: 38)

Pada surah al-Fath, Allah menggambarkan bagaimana strategi perang. Pada ayat 29 digambarkan bahwa dalam suatu peperangan bahwa kepercayaan kepada pemimpin itu menjadi sesuatu yang mutlak untuk dilaksanakan. Contoh ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah para sahabat begitu dongkol karena keputusan Rasulullah menerima perjanjian tersebut, yaitu bahwa seorang muslim yang datang ke Mekkah tidak boleh dipulangkan. Sementara seorang kafir yang datang dari Mekkah ke Madinah, harus dipulangkan ke Madinah. Tapi kalau itu memang sudah keputusan pemimpin, maka hal itu harus dipatuhi.

Pada surah al-Hujurat Allah mengunci keberhasilan umat Islam harus dibarengi berbagai macam karakter. Paling tidak ada 7 karakter yang harus dimiliki seorang muslim.

  1. Berakhlak pada agama, yaitu jangan mendahului Allah dan rasul-Nya. Maksudnya, segala sesuatu yang belum diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya, jangan dilakukan. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Hujurat, 49: 1)
  1. Etika pada Nabi (jangan berlebihan memahami hadis)
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat, 49: 2)
  1. Etika terhadap berita
    em>“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat, 49: 6)
  1. Etika kepada suadara seiman
    Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat, 49: 10)
  1. Etika dalam bergaul
    “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Hujurat, 49: 11)
  1. Etika berteman
    “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat, 49: 12)
  1. Etika egalitarian
    “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat, 49: 13)

Sabtu, 30 September 2017
Oleh Ustadzah Dr. Ahmad Zuhri, Lc. MA

DIMENSI HIJRAH

Tahun baru Hijiriah dimulai dengan bulan Muharram. Ada beberapa keutamaan bulan Muharram.
  1. Bulan diharamkan berperang. “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah, 9: 36). “Sesungguhnya zaman ini telah berjalan sebagaimana awalnya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, yang mana satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga bulan yang (letaknya) berurutan, yaitu Dzul qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab yang berada di antara Jumada (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari Muslim)
  1. Bulan Muharram adalah awal tahun Hijiriah
  2. Bulan Kemenangan para Nabi
  3. Nuh diselamatkan Allah beserta kaum Muslimin pada bulan Muharram. “Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.” (QS. Yunus, 10: 73)
  4. Nabi Isa diselamatkan Allah dari kaum Kafir pada bulan Muharram “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”. (QS. Ali Imran, 3: 55)
Ada empat dimensi yang berkaitan dengan Hijrah.
  1. Dimensi Iman
  2. Hijrah yang sebenarnya harus berlandaskan iman. Iman adalah penentu kepindahan seseorang itu disebut hijrah atau tidak. Rasulullah Saw bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.” (HR. Bukhari). Berdasarkan hadis tersebut dijelaskan bahwa hakikat hijrah berkaitan dengan dimensi penyelamatan iman. Rasulullah menyuruh kaum Muslim Hijrah ke Etopia disebabkan keimanan yang terancam. Begitu juga hijrahnya Nabi dengan sahabat ke Madinah adalah untuk menyelamatkan iman. Di dunia modern bisa dilihat dari keadaan Muslim Rohingya yang hijrah dari Myanmar ke Bangladesh untuk menyelamatkan iman mereka. Orang yang tersiksa di negeri asalnya karena agama dan ia tidak mau menyelamatkan diri, maka nanti di akhirat ia akan menyesali keadaan tersebut, “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa, 4: 97)
  1. Dimensi jamaah
  2. Kegiatan hijrah dilakukan secara kolektif. Berpindahan seseorang dari satu tempat ke tempat lain tidak dinamakan hijrah. Ketika Nabi hijrah, ia tidak sendiri. Tapi ada ratusan kaum muslimin yang ikut menyertainya. Makanya di dalam al-Qur’an ayat hijrah selalu menggunakan kata jamak. “Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa, 4: 100)
  1. Dimensi Ibadah
  2. Hijrah yang dilakukan karena Allah dinilai ibadah. Artinya, kegiatan perpindahan tersebut diberi ganjaran pahala. Hal ini juga berkaitan dengan niat dan tujuan dari hijrah tersebut. Hal ini juga sesuai dengan ungkapan surah An-Nisa ayat 100 di atas.
  1. Dimensi Peradaban
  2. Hijrah harus menunjukkan arah perbaikan kehidupan. Tempat hijrah yang dituju adalah tempat yang lebih baik dari tempat asal. Jika tempat yang dituju lebih buruk, maka hakikat hijrah

Sabtu, 19 Agustus 2017
Oleh Ustadzah Dr. Dahlia Lubis, M. Ag

MERAIH KETENANGAN DALAM RUMAH TANGGA

Pendahuluan

Dalam Al-Quran dijelaskan tujuan pernikahan membentuk keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah. Dalilnya dalam Al-Quran : (Ar-Rum : 30; 21). Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Ia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cendrung dan merasa tentram kepadanya dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah), sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah Swt) bagi kaum yang berfikir.”

Dalam hadist disebut dengan Baiti Jannati (rumahku adalah surgaku). Rasulullah SAW adalah Figur teladan yang telah sukses dalam membina rumah tangga “SAMARA” sebagai seorang  muslim. Hakikatnya sebuah kehidupan rumah tangga yang sakinah terletak pada realisasi/penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan berumah tangga yang bertujuan mencari ridho Allah SWT. Ketenangan jiwa (sakinah) itu adalah ketenangan yang terbimbing dengan agama dan datang dari sisi Allah SWT (QS: Al-Fath: 4). “Dialah yang telah menurunkan sakinah (ketenangan ke dalam hati orang-orang yang beriman agar keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).

Tujuan Pernikahan

Dalam Islam tujuan pernikahan itu sebagai berikut :

    • Untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi
    • Untuk membentengi akhlak manusia
    • Untuk menegakkan rumah tangga yang islami
    • Untuk meningkatkan ibadah kepada Allah SWT
    • Untuk memperoleh keturunan yang shalih dan shaliha

Kiat Menuju Keluarga Harmonis, Bahagia dan Sakinah

    • Rumah tangga dibangun dan didirikan berlandaskan Al-Quran dan sunah Nabi. Niat awal membangun rumah tangga/keluarga sakinah adalah rumah tangga yang dibina atas landasan taqwa, berpandukan Al-Quran dan sunnah dan bukan atas dasar cinta semata
    • Membentuk rumah tangga untuk menciptakan kasih sayang (mawaddah warahmah). Kedua hal ini merupakan pilar penting yang diperlukan karena sifat kasih sayang ini akan mewujudkan sebuah masyarakat/keluarga yang bahagia, saling menghormati, saling mempercayai, saling tolong menolong dalam kebaikan. Tanpa kasih sayang rumah tangga akan hancur
    • Bersyukur telah dikaruniai pasangan hidup. Makna syukur disini adalah siap dengan kelebihan dan kekurangan pasangan hidup kita. Dalam rumah tangga harus saling melengkapi satu sama lain dan menutupi kekurangan satu sama lain.
    • Memiliki kriteria suami/istri yang tepat.

Hal ini dilakukan sebelum pernikahan. Di antara kriteria tersebut misalnya:

  • Beragama Islam
  • Berasal dari keturunan/keluarga yang kita percayai baik
  • Berakhlak mulia
  • Bertutur bahasa yang baik
  • Sholeh/sholehah
  • Sopan santun
  • Menjalankan kewajiban dan hak sebagai suami/istri dengan baik

Tips Keluarga Bahagia

Untuk menjadikan keluarga bahagia ada beberapa tips yang perlu dijalankan:

  • Dalam menempuh hidup berkeluarga, sadarlah bahwa jalan yang akan kita lalui tidaklah selalu jalan mulus, indah dan bahagia. Tapi ada juga semak belukar yang penuh onak dan duri. Ketika rumah tangga dalam masalah, jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justru semakin erat berpegangan tangan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
  • Ketika keluarga belum dikaruniai anak, cintailah istri/suami dengan sepenuh hati dan terus berusaha dan berdoa. Ketika sudah punya anak, janganlah membagi cinta kepada suami/istri dan anak-anak dengan beberapa bagian saja tapi cintailah mereka dengan sepenuh hati tanpa terkecuali.
  • Ketika ekonomi keluarga belum baik yankinlah pintu rezeki akan terbuka lebar berbanding lurus dengan tingkat ketaatan suami/istri kepada Allah SWT.
  • Selalu mengingat Allah SWT : “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah SWT. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah SWT hati menjadi tentram.(QS: Ar-Ra’ d : 28)
  • Wudhu dan sha Perbuatan ini bagian dari mengingat Allah SWT.
  • Membaca Al-Quran “dan apabila dibacakan Al-Quran dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”.
  • Berfikir positif artinya selalu mengambil kebaikan dan hikmah yang ada dalam suatu kejadian. Jika ada masalah atau cobaan jika tidak tenang dalam menghadapinya pasti akan stres/depresi. Berfikir positif sangat mempengaruhi diri manusia secara fisik dan psikologis. Untuk itu perlu berfikir positif agar menjadi sehat luar dan dalam. Ketenangan tidak akan terwujud jika diri kita diliputi oleh pikiran negatif dan hal ini akan mengarah pada pesimistis.
  • Bersyukur atas apa yang ada : bersikap tenang akan muncul jika dalam diri kita selalu bersyukur atas kelebihan apapun yang dimiliki. Tanpa bersyukur manusia akan resah dan gelisah tanpa pernah melihat keadaan yang dimilikinya. Bersyukur adalah salah satu cara untuk membuat diri tenang dalam kondisi apapun baik kaya, miskin, sehat dan sakit selalu ada sisi kelebihan dan kekurangannya.
  • Menyalurkan emosi dengan positif misalnya dengan menulis, melalukan aktivitas produktif, olahraga. Emosi negatif tidak boleh ada di dalam diri, harus segera dibuang pelan-pelan jika tidak maka akan membludak menjadi kemarahan yang tidak terkendali. Orang yang mampu menyalurkan emosinya dengan positif maka akan mendapatkan ketenangan di dalam hidupnya. Melakukan hal yang disukai (hobi) kebahagiaan sangan bergantung dari bagaimana persepsi dan pengelolaan diri kita untuk itu ketenangan dan kebahagiaan haruslah diciptakan bukan hanya sekedar dicari atau ditunda kedatangannya.
  • Menyayangi orang miskin.
  • Menjaga silaturahim
  • Menjauhi hutang

Kesimpulan

  • Kebahagiaan keluarga adalah awal baik dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang kuat, beriman dan berakhlak baik serta cerdas dikemudian hari.
  • Keluarga sakinah awal dari berdirinya sebuah masyarakat madani dimulai dari keluarga, selanjutnya lahirlah keluarga yang berkah dari Allah swt.
  • Membangun keluarga sakinah dengan cara mendekatkan keluarga dengan nilai-nilai Islam untuk mencapai berkah Allah SWT.