Jum'at, 18 Agustus 2017
Oleh Ust. Prof. Dr. Amroeni Darajat, M. Ag

UMAT ISLAM BELUM BERDEKA

Kemerdekaan adalah hak setiap manusia. Setiap hal yang membelenggu manusia untuk merendahkan derajat kemanusiaannya adalah penjajahan. Islam datang ke dunia untuk memerdekakan manusia dari belenggu tersebut. Nabi Ibrahim, misalnya, memiliki misi untuk melepaskan umatnya ketika itu dari belenggu penyembahan kepada “ilah-ilah” yang menyesatkan. “Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata." dan Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (kami memperlihatkannya) agar Dia Termasuk orang yang yakin. ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." (QS. Al-An’am, 06: 74-76)

Nabi Musa berbeda misa dengan Nabi Ibrahim. Tujuan Nabi Musa diutus adalah untuk memerdekakan manusia dari penindasan Fir’aun. “Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah lembah Thuwa; "Pergilah kamu kepada Fir'aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas, dan Katakanlah (kepada Fir'aun): "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)". dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?" lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. tetapi Fir´aun mendustakan dan mendurhakai. kemudian Dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka Dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (seraya) berkata:"Akulah Tuhanmu yang paling tinggi". Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).” (QS. An-Nazi’at, 79: 16-26)

Islam memerdekakan manusia dari kegelapan. “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah, 2: 257). Inilah yang menginspirasi kartini dengan konsep “habis gelap, terbitlah terang.”

Kemerdekaan adalah milik semua bangsa. Hanya orang-orang terjajah yang merasakan nikmat kemerdekaan. Seperti indahnya sehat hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang pernah sakit. Nikmat kaya hanya bisa dirasakan oleh-oleh orang-orang miskin. Biasanya orang-orang yang tidak pernah terjajah, kurang menghargai nikmat kemerdekaan.

Pertanyaannya adalah apakah umat Islam hari ini benar-benar merasakan nikmat kemerdekaan? Ternyata kalau kita perhatikan saat ini umat Islam masih terjajah. Dalam bidang ekonomi, misalnya, hampir 90% dikuasai oleh non muslim. Kalau umat Islam tidak menyadari hal tersebut, bisa jadi ancaman itu semakin merajalela.

Spanyol dulu mayoritas Muslim pada abad ke-13. Dulu mereka begitu terlela dengan kekuatan Islam. Sampai akhirnya mereka diusir oleh Ratu Isabella dan raja Ferdinan. Hanya dua pilihan. Diusir atau masuk Kristen. Begitu juga Singapura, dulu mayoritas Muslim. Karena kelalaian mereka, akhirnya sekarang Islam paling-paling hanya 3% saja. Indonesia tahun 80-an juga hampir 95% Islam. Sekarang di tahun 2017, Islam hanya tinggal 80% sampai 85% saja. Tidak menutup kemungkinan 30 tahun ke depan, terjadi perubahan drastis. Takutnya generasi kita ke depannya hanya bisa bercerita bahwa dulu Islam pernah mayoritas di Indonesia.

Hari ini penyakit umat Islam adalah sulit diatur untuk sama-sama berjalan ke arah yang sama. Ibarat paskibra kalau tidak satu komando, tentu barisan akan berantakan. Komandon menyuruh untuk balik kanan, tetapi jika semua sibuk dengan urusan masing-masing, maka tentu barisan akan kacau. Organisasi yang rapi akan mampu menghancurkan organisasi yang tidak tersusun rapi. “Al haqqu bila nizam, yaglibu al-bathil bi an-nizam. Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir. Oleh karena itu, umat perlu dididik untuk bersatu. Orang-orang yang bisa mendidik umat untuk bersatu adalah

  1. Orang-orang yang dekat dengan wahyu (ulama)
  2. Orang-orang yang berpikir secara ra’yu (cendikiawan muslim)
  3. Orang yang berpikir berdasarkan wahyu (orang yang memiliki kesadaran)

.